FF/ THE DARKNESS [Oneshoot]

3/08/2011

Title      : THE DARKNESS
Genre   : Fantasy
Rating   : G
Author  : Aku dan seperangkat otakku, haha:p
Category : Serial Fanfiction
Cast:  
Choi Hyun Ri a.k.a Hyun Ri
Choi Minho a.k.a Minho
Lee Jinki a.k.a Onew
=Hyun Ri POV ON=
Choi Hyun Ri. Itulah namaku. Siswi kelas XII yang menyedihkan. Kenapa? Yah, karena aku sudah tak memiliki orangtua, hanya satu-satunya keluarga yang kumiliki yaitu kakak laki-lakiku, Choi Minho. Entahlah, aku tak tau mengapa orangtuaku meninggal. Saat itu umurku 15 tahun, tapi aku sama sekali tak mengingat kejadian itu. Setiap aku bertanya pada oppaku selalu dia pamerkan deretan gigi putihnya padaku. Padahal aku tau pasti, tersirat kesedihan yang mendalam disana.  Yah~ Aku sudah cukup umur untuk mengetahui semuanya, mengapa? Mengapa oppa? Aku ingin tau.
“Hyun Ri..” suara itu menyadarkanku yang sedari tadi melamun. “Ne oppa..”  aku membalikan tubuhku menghadap sang pemilik suara. “Waeyo oppa?” “Anio Hyun Ri… Aku hanya melihatmu sedari tadi melamun. Memikirkan sesuatu, eum?” aku mengalihkan pandanganku keluar jendela “Ah, aku hanya sedang membayangkan kota kita ini menjadi terang. Aku bosan dengan kegelapan ini.” Aku berusaha tetap tersenyum. Minho oppa mengangguk dan pergi di kelokan kamarku. Yah..  Verdeland. Itu nama kota yang aku tinggali. Kota yang terselimuti kegelapan, sepi…  bahkan bukan hanya satu jam, satu hari, satu minggu, tapi setiap hari SELAMANYA. Aku selalu memimpikan kota yang terang, ramai dan indah. Akkhh.. aku teringat lagi pada namja itu.
=========
=Flashback On=
Aku menatap bulan purnama yang bertengger diatas sana, tertutup awan yang jarang. Setiap aku merasa sedih, kecewa dan marah, inilah tempat favoritku. Duduk di atas bukit melihat bulan, hanya itu yang dapat menenangkanku. Kupejamkan kedua mataku, berusaha menikmati siapa tau angin berhembus. Yah~ Padahal aku tau tak akan ada angin berhembus disini. Kubuka perlahan kelopak mataku. Samar-samar kulihat bayangan seorang namja tepat di depan arah bulan. Seakan namja itu keluar dari bulan yang sedari tadi menemaniku. Aku tersentak saat namja itu menyentlikan jarinya didepan wajahku.
“Gwenchanayo?” Hah? Menengok kebelakang  dan kembali menatap namja itu. “Bicara denganku kah?” kutunjuk wajahku sendiri. “Ne… memang ada yang lain disini?” Dia menengok kekanan dan kekiri *mau nyebrang jalan bang? #plaaaak JLEB (?), author dilempar sendal+disumpel lap pel (?)* Aku menggeleng. Namja itu berjalan mendekatiku dan duduk disebelahku. Memandang lurus kearah bulan. “Eum? Sedang apa?” Namja itu bertanya lagi. “Menenangkan diri. Kau sendiri?” “Aku kebetulan lewat.” “Eum.. pantas aku tak pernah melihatmu disini.” Dia menengok kearahku. “Yaaa… aku memang bukan berasal dari sini.” “Mwo? Aku tak pernah bertemu dengan orang selain dari sini. Jadi dari mana kau berasal?” Hening sejenak sebelum dia menarik nafas panjang dan mulai berbicara. “Dari suatu tempat jauh dari sini.” Namja itu kembali memandang lurus kearah bulan dan tersenyum miris. “Seperti apa tempat itu?” “Indah…” “Eum? Indah yang seperti apa?” “Indah.. sangat indah… Matahari bersinar saat pagi, memancarkan keceriaan. Dan bulan memberikan cahaya saat malam yang gelap. Angin disana sangat sejuk…” “Boleh aku kesana? Disini tak ada yang seperti itu, pagi maupun malam tidak berbeda..” Aku menunduk, berharap keindahan itu dapat kurasakan. “Ne.. boleh saja.. “ “Waeyo? Bukankah kota itu indah, kenapa kau kesini?” Mata bulan sabit namja itu terpejam. “Aku ingin bertemu denganmu dan membawamu kesana, Hyun Ri.” Nothing, tak ada ekspresi yang tergambar di raut wajahnya. “Maksudmu? Dan dari..nama…” “Ssssst.. biarkan aku istirahat, aku lelah mencarimu seharian.”
=Flashback Off=
Hanya mata bulan sabitnya yang aku ingat.. bahkan namanya pun aku tak tau. Pabbo Yeoja! Mengapa tak kutanyakan namanya, padahal dia tau namaku. Akkhh.. sudahlah toh dia tak pernah menampakan dirinya lagi sejak malam itu. Aku berajalan mencari Minho oppa di setiap sudut rumah. Nihil.. tak ada seorangpun dirumah ini selain aku. Aku memutar knop pintu rumahku dan berjalan keluar.
====
“Minho oppa~” Aku mendekatinya yang sedang memandang kosong pohon besar didepan rumahku dan memeluk lengan kirinya. “Sedang apa oppa disini, eoh?” Sebenarnya aku sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang selalu kutanyakan ini ‘hanya tersenyum dan mengacak poniku lalu pergi’ tapi kali ini dia hanya terdiam lalu menengok padaku, menatapku dengan tatapan yang sendu. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Aku tak bisa lagi menyembunyikan ini lagi Hyun Ri-ah.” Terdiam lalu dia menarik nafas dan berdehem pelan. “Tentang umma dan appa…” Aku hanya diam. “Orangtua kita meninggal karena dibunuh.. dibunuh oleh makhluk jahat! Nappeun namja!” tangannya mengepal menahan amarah, menekankan pada kata ‘nappeun namja’. Aku terdiam seribu bahasa, berusaha mencerna kata-kata oppaku itu. “Dia yang membunuh orangtua kitaa, menyambar orangtua kita dengan sayapnya. Sayapnya yang putih tak melambangkan hatinya, hatinya busuk, CIH.” Namja yang ku gandeng ini terdiam, sepertinya telah cukup ia mengatakan semua. “Begitukah oppa? Aku yakin ada yang janggal dari kejadian itu..” Aku mengangguk pasti. “Hah? Apa? Kau mau bilang kalau nappeun namja itu tidak bermaksud membunuh orangtua kita? Begitu?” aku mengangguk mantap. “Ne! Putih~ Karena aku yakin putih itu melambangkan kesucian.. Ya~ walau aku belum pernah melihat namja yang membunuh orangtua kita tapi entahlah aku yakin dia tidak bertujuan untuk menghabisi nyawa orangtua kita…” tersenyum miris mendengar kata-kataku. Minho oppa berjalan memasuki rumah.
CKLEK
BLAM
Pintu tertutup, aku kini sendirian. Molla~ aku tidak tahu apa yang sedang ku pikirkan. Sekilas bayangan itu terlintas lagi… namja itu.. mengingat mata bulan sabitnya yang menyiratkan kesucian. Putih! Pakaian namja itu juga putih..dan dia nampak bercahaya… Jangan..jangan… STOP ! Hentikan Hyun Ri jangan berpikir yang negatif, semoga bukan dia.. Aku berjalan ke bukit biasa. Ku dudukan diriku diatas rumput kering itu… “Bogoshipo” lirihku. Siapa nama namja itu? Ingin sekali menatapnya lagi…
 “Hyun Ri-ah~ Merindukanku?” Aku mencari sumber suara itu. Akhh, dia? Namja itu? BLUSH semburat merah di pipiku. ‘Anio..” Aku menunduk dan menggeleng. “Kau tak usah berbohong padaku, aku mendengar kau mengucapokan kata ‘bogoshipo’. Pasti untukku.” terkekeh geli melihatku yang kaget dengan tebakannya yang.. ..tepat. “Tak usah malu dan menyembunyikannya, aku bisa membaca pikiranmu.” Terkekeh lagi, mata bulan sabitnya kini membentuk garis lurus. Kyeoppta ><” *unyuunyunya onyu oppa ku ><.. sini poppo dulu sama akuuuu >3< #debugklontagprangbruk, author di serbu pasukan MVP*
“Eumm.. dasar kau ini..” aku menjitak kepalanya. Mwo? Sejak kapan dia disampingku? Aku bergidik, bulu kudukku berdiri, sereeem >< “Tak usah kau kaku bergitu dasar yeoja aneh.. “ kali ini tertawa lebar. ”Kau yang aneh! Datang tiba-tiba! Hilang tiba-tiba! Tak Jelas! Eh, ngomong-ngomong siapa namamu?” “Jinki.. namaku Lee Jinki… panggil Onew kalau kau mau. Hyun-ah~” “Eum, Waeyo?” “Bagaimana kalau yang membunuh orangtuamu itu aku?”
DEG
Mengapa ia tau? Aku saja baru mengetahuinya barusan.. sekitar 10 menit yang lalu… “Jangan..jangan… ANDWAE!” Aku berteriak keras dan segera beranjak dari dudukku, aku ingin segera pergi sebelum ia menahan tanganku. “Dengarkan aku dulu Hyun-ah~” “SHIREO!!!” Aku berusaha melepaskan lenganku. “ANDWAE LEPASKAN AKUU!!!!” “Hyun Ri!!!” suaranya ikut meninggi, terlihat tatapannya yang serius. Aku terduduk lemah. TES. Air mataku jatuh. “dengarkan aku Hyun Ri…” suaranya kembali tenang namun sedikit bergetar.
=Hyun Ri POV END=
=Flashback On=
=Onew POV ON=
Aku melihat Minho berlari memasuki rumah dan menggeretku keluar. “Ada apa Minho?” tanyaku heran. “Ini aku menulis ini!” Minho menunjuk serangkaian kata yang terpahat di batang pohon besar itu. “Untuk apa kau menulis ini?” tanyaku lagi. “Ihhh, agar saat kau pulang nanti aku selalu mengingatmu kalau kita pernah bersama-sama. Aku janji akan selalu mengingatmu.” Memamerkan deretan gigi putihnya. “Waaah~ Gomawoyo Minho-goon.  Aku juga akan selalu mengingatmu dan keluargamu selamanya.” Aku berteriak kegirangan. “Baiklah aku mau ke toko seberang untuk membeli kaset game yang terbaru dan kita akan bertanding lagi hyung.” Mengerlingkan matanya. “Tumben sekali kau memanggilku dengan embel-embelan hyung. Hahahaha” mengacak rambut hitam pendek Minho. Kulihat langkah mantapnya melangkah ke tepi jalan. Langkahnya itu semakin lama semakin pelan saat berada di tengah jalan. Sedetik kemudian tubuhnya terhuyung dan berhambur membentur aspal.  Aku panik setengah mati saat melihat sebuah Truk yang masih jauh berjalan dengan cepat. Aku memberanikan diriku melangkah cepat menuju tempat Minho, namun dengan sigap lengan kokoh menahan tanganku. “Ajusshi? Waeyo? Minho, itu Minho ajusshi! MINHO!!”  Aku berteriak GILA. YA ! Aku GILA karena melihat MINHO terancam bahaya. “Jangan Onew, kau bisa CELAKA!” Ajusshi, appa Minho membentakku? Baru pernah aku melihat ajusshi setakut itu. Aku tau pasti dia takut akan hal terjadi padaku. Tapi aku tau betul dari tatapannya yang mulai memanas akan ketakutan kehilangan anaknya. Penerus hidupnya, aku tahu itu. “Minho!!!” kudengar ajumma berlari tergopoh-gopoh menghampiri aku dan nampyeonya. Kakinya bergetar hebat. “Akan aku tolong dia!” Aku mantap. “ANIYO!” sergap ajumma. “JANGAN ONEW! KAU BISA TERANCAM!!” tangisan sekaligus teriakan umma Minho itu tak ku hiraukan.
=Onew POV END=
=Flashback Off=
=Hyun Ri POV ON=
“Kau tahu pohon besar yang selalu dipandang kakakmu itu?” Aku menggeleng. “Pohon itu tempat aku dan kakakmu sering bermain bersama, disitu juga tertera nama appamu, ummamu, minho dan aku.”   Kulihat butir-butir air bening keluar dari ujung mata sipitnya. “Tapi kata Minho oppa, orang yang membunuh orang tuaku memiliki sayaap put…” kata-kataku terhenti begitu menyadari Onew.. Onew.. mengeluarkan sayap puutiiih yang bercahaya dari punggungnya. WAAAWW. Tercengang dengan apa yang ku lihat, dalam hati tak percaya Onew yang membunuh umma dan appaku namun dari wajahku aku yakin orang yang melihatku pasti tau kalau aku gembira melihat suatu keindahan baru. “Aku makhluk dari Vedersenland , tempat yang bagaikan langit dengan bumi dengan Vederland, jauh berbeda.”
Setelah itu dikatupkannya sayap itu dan kembali menghilangkannya. Aku berpikir, senyumku lenyap seketika. “Lalu apa yang terjadi?” “tanpa berpikir panjang aku membentangkan sayap lebarku, dengan maksud ingin terbang menolong Minho, namun sayang sayapku mengenai orangtuamua. Menyayat baju dan kulit orangtuamu. Dan mereka meninggal seketika.”  
“Kenapa orangtuaku lebih memilihmu?” Aku menahan tangisku, tapi tidak bisa.. aku tetap terisak. Aku menundukan kepalaku diantara lututku. “Karena.. karena.. aku dianggap seperti anak mereka, aku dititipkan pada orangtuamu oleh ummaku.” “Tapi.. aku tetap tidak mengerti…” aku menunduk lebih dalam. “Ya~ Appamu dulu bekerja untuk appa ku di tempat asalaku.  Kau ingat? Tempat yang kuceritakan?” Aku mengangguk. “ Namun suatu kesalahan timbul karena keteledoran appamu, lalu aku dan keluargaku mengalami kebangkrutan, appa dan ummaku tidak bisa merawatku karena tak memiliki dana, maka aku dititipkan pada Ummamu.” Tak sadar, mata kami bertemu.. “Aku kesini untuk menemuimu dan membawamu kembali kesana.. ke tepat yang indaah.. maukah?” Sekejap rasa sedihku hilang, tak terbesit kekecewaan saat Onew mengakui semua kesalahannya, malah aku merasa lega dengan kejujurannya. Aku mengangguk. “Saranghae Hyun Ri-ah~” senyumannya meluluhkan hatiku, senyuman itu hanya dia hanya namja tampan ini yang memilikinya. “Nado oppa.. tapi  Minho oppa…” “Ne.. ayo kita yakinkan oppamu itu.. Aku yakin dia pasti mengerti..” Menatap dengan serius dan kembali tersenyum…
Yah…
Kegelapan itu memang ada…
Entah darimana datangnya..
Namun kegelapan bisa timbul karena…
Kegelapan bisa timbul karena perasaan yang suram..
Tapi bukan berarti takkan menjadi terang bukan?
Cinta…
Dapat membuat suasana yang suram menjadi lebih indah…
========================
DON'T BASH !!
DON'T CO -> PAS !! #pedee gilee nih author
Just My Imagination :D

0 komentar: